Ecole 42 mungkin adalah salah satu eksperimen paling ambisius dalam pendidikan engineering.
Program pendidikan ini tidak memiliki guru, buku, asrama, gym, laboratorium, maupun student center.Namun, program ini berencana untuk menghasilkan software engineer yang memiliki movitasi, berkualitas tinggi, yang mana mereka akan menjalani program dua sampai tiga tahun agar mereka bisa mempelajari apapun yang mereka perlu ketahui untuk menjadi programmer yang luar biasa hebat.
Sekolah ini, yang dulunya merupakan gedung bekas pemerintah yang digunakan untuk mendidik para guru, didirikan oleh Xavier Niel. Pendiri dan pemegang saham mayoritas di suatu ISP di Perancis, Free, Niel adalah seorang billionaire. Dia tidak dikenal di US, tapi dia disebut-sebut sebagai salah satu entrepreneur yang sukses di Perancis.
Niel memulai Ecole 42 dengan donasi sebesar 70 juta euro. Dia bahkan tidak berencana untuk mencari keuntungan dari sini.
Agar sekolah ini bisa terus berjalan sendiri, dia tahu bahwa alumni sekolah ini nantinya akan memberikan sesuatu kembali ke sekolah ini, sama seperti alumni sekolah lainnya. Jika beberapa diantara mereka sukses menjadi orang kaya, seperti Neil, mereka akan memberikan jutaan euro ke sekolah ini.
Tujuan dasar dari Ecole 42 adalah memasukkan semua murid – 800 sampai 1000 per tahun – ke dalam satu gedung di jantung kota Paris, memberikan mereka Mac dengan tampilan layar yang besar, dan memberikan mereka pembelajaran programming yang sulit sebagai tantangan yang harus mereka atasi. Murid-murid ini hanya diberi sedikit arahan tentang cara menyelesaikan suatu masalah, agar mereka bisa bertanya satu sama lain – dan mencarinya di internet – untuk menemukan solusinya.
Bahkan 40 persen dari murid Ecole 42 tidak lulus SMA. Sedangkan yang lain sudah lulus dari Stanford atau MIT atau kampus keren lainnya. Tapi Ecole 42 tidak peduli tentang background mereka – yang dipedulikan adalah apakah mereka bisa menyelesaikan projek itu dan lanjut ke projek lainnya. Satu-satunya persyaratan adalah mereka adalah orang yang berusia antara 18 dan 30 tahun.
“Kami tidak menanyakan tentang apa yang telah mereka lakukan sebelumnya,” ujar Niel.
Namun Ecole 42 lebih sulit daripada Harvard: Tahun lalu, 70.000 orang berusaha ikut kualifikasi tes secara online. 20.000 orang lulus tes, dan 4.000 dari mereka diundang untuk menghabiskan empat minggu di Paris melakukan projek intensif yang mengharuskan mereka bekerja lebih dari 100 jam seminggu pada berbagai tantangan pemrograman. Dan akhirnya, 890 murid ini telah terpilih untuk masuk kelas perdana, yang mulai di bulan November 2013. (usia rata-rata adalah 22, dan 11 persen dari murid kelas pertama adalah perempuan.)
890 murid yang terpilih dari 70.000 pelamar ini menunjukkan bahwa tingkat penerimaannya sekitar 1 persen atau sekitar 4.5 persen dari yang lulus tes. Sebaliknya, Harvard menerima sekitar 6 persen dari total pelamar. Dan bahkan biayanya tergolong mahal.
Hasilnya: Jika berhasil, pendidikan di sekolah ini akan menghasilkan programmer yang memiliki motivasi tinggi, paham semua aspek software engineering, dan berkeinginan untuk bekerja keras. (empat minggu tryout, dengan 100 jam per minggu, perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan waktu kerja orang pemerintahan 35 jam per minggu.)
Nicolas Sadirac, entrepreneur asal Perancis dan juga seorang dosen, adalah direktur sekolah ini. Sebelum Ecole 42, ia menjalankan Epitech, sekolah private yang mencari keuntungan (for profit) yang melatih software engineer.
Murid-murid berbagi code mereka di Github. Mereka berkomunikasi satu sama lain, dan mendapatkan tantangan dan juga tes, via intranet sekolah. Selebihnya mereka harus mencari tahu sendiri, apakah itu belajar trigonometri, mencari tahu syntax untuk bahasa pemrograman C, atau mengambil teknik untuk mengindeks database.
Tes ini pada dasarnya adalah lulus atau gagal. Seorang pengurus sekolah ini membandingkannya dengan membuat mobil. Di sekolah lain, mendapatkan nilai tes 90 persen berarti mendapatkan nilai A; tapi jika anda membuat mobil hanya tiga roda saja, bukan empat roda, anda gagal. Di Ecole 42, anda tidak mendapatkan poin untuk mengerjakan tes yang hanya selesai sebagiannya saja – anda harus membuat mobil lengkap dengan empat roda.
Pendekatan tanpa guru ini ternyata masuk akal, karena hampir semua hal yang anda perlu ketahui tentang programming bisa ditemukan , gratis, di internet. Orang-orang yang memiliki motivasi bisa dengan mudah belajar sendiri tentang bahasa apapun yang mereka perlu ketahui dalam beberapa bulan saja. Tapi motivasi adalah sesuatu yang sulit didapat, dan dipertahankan – coba tanya orang yang sudah mencoba belajar pemrograman di Codecademy yang tidak stuck. Codecademy telah mendorong terciptanya pembelajaran coding melalui suatu bootcamp dan sekolah-sekolah di dunia ini. Ecole 42 mengambil inspirasi serupa tetapi memungkinkan muridnya untuk menciptakan semangat mereka sendiri melalui kerjasama tim yang kolaboratif.
Tapi bahkan jika mereka tidak pernah berkespansi ke luar Paris, Ecole 42 bisa menjadi kekuatan yang signifikan dalam pendidikan software. Perancis memiliki reputasi untuk menciptakan engineer yang hebat (dalam software maupun bidang lainnya).
Jika Ecole 42 menambahkan ribuan software engineer yang ingin menjadi entrepreneur setiap tahunnya, ini dapat meningkatkan percepatan tingkat kompetitif negara ini di dalam ranah teknologi.
Dan model seperti ini akan memaksa kampus seperti Harvard melakukan perbaruan. Jika anda ingin mendapatkan pelatihan seperti ini gratis, dan anda ingin menjadi seorang software engineer, kenapa sekolah ke Harvard?
Via Venturebeat.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar