“Anna?”panggilku heran melihat keberadaan Anna di optik tersebut.
“Emm...apa yang kau lakukan di sini Ben?”tanya Anna balik padaku.
“Seharusnya aku yang bertanya demikian. Aku ‘kan memang langganan di optik ini. Kau pakai kacamata sekarang?”balasku pada Anna.
“Ha? Aku pakai kacamata? Tentu saja
tidak Ben. Kau tahu sendiri ‘kan kalau aku benci memakai kacamata yang
membuatku jelek.”jawab Anna sambil tergesa-gesa.
“Ouw...baiklah kalau begitu.”lanjutku.
“Ya sudah aku duluan.”balas Anna sambil berlalu dari hadapanku.
Setelah
kejadian itu, Anna sedikit berubah. Dia sering salah menyalin tulisan
yang ada di papan tulis, dia tak bisa membacakan jam dinding kepadaku,
dan bahkan dia sering menolak untuk membacakan tulisan di papan tulis.
Aku sering bertanya ada apa dengannya, tapi dia selalu mengatakan bahwa
dirinya tak apa-apa. Aku terus menyelidiki apa yang salah dengan Anna.
Saat istirahat aku menghampiri Anna di kursi kelasnya.
“Ada apa denganmu?”tanyaku pada Anna.
“Emm...maksudmu?”tanya Anna balik.
“Ada yang salah dengan matamu? Kalau aku perhatikan sepertinya memang ada yang salah dengan matamu.”tambahku lagi.
“Tidak kok. tidak ada apa-apa.”jawab Anna padaku seperti menyembunyikan sesuatu.
“Kau yakin?”balasku masih belum percaya.
“Tentu saja. Hehehe”balas Anna dengan raut wajah yang janggal bagiku.
“Emm...baiklah kalau begitu.”jawabku terpaksa.
Hari
demi hari berlalu, aku semakin bingung dengan tingkah laku Anna, tapi
aku tak pernah menanyakannya lagi pada Anna. Suatu hari Anna
menghampiriku.
“Ben...”panggil Anna pelan sambil duduk di sampingku.
“Ada apa Anna?”tanyaku pada Anna yang tampak gelisah.
“Sebenanrnya ada sesuatu yang kusembunyikan dari orang-orang termasuk kau.”balas Anna sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Kacamata?”balasku tak percaya saat aku melihat Anna menggenggam sebuah kacamata di tangannya.
“Ya.”jawab Anna singkat.
“Jadi selama ini kau?”tanyaku masih tak percaya.
“Iya, selama ini aku takut terlihat
jelek, jadi aku tak mau menggunakan kacamataku, padahal aku tahu kalau
aku sangat membutuhkannya.”jelas Anna.
“Jadi hanya karena itu?”balasku lagi.
Aku mengambil kacamata itu dari tangan Anna lalu memakaikannya pada Anna dan tersenyum ke arahnya. Anna menatapku dengan heran.
“Lihat? Kau lebih nyaman bukan?”kataku.
“Memang, tapi aku sangat jelek.”balas Anna.
“Tidak Anna. Kau terlihat lebih cantik.”jawabku.
“Maksudmu?”tanya Anna lagi.
“Kau akan terlihat lebih cantik
saat menjadi dirimu sendiri. Tak perlu berpura-pura menjadi orang lain
untuk terlihat cantik.”jelasku pada Anna.
“Kau benar.”jawab Anna sambil tersenyum ke arahku.
Selalu
menjadi diri sendiri merupakan suatu kebanggaan yang tak akan
terbayarkan. Lebih baik kita dibenci karena menjadi diri sendiri
daripada kita disukai karena menjadi orang lain.
SELESAI
Karya : Cheryl Natasha - SMP TALENTA VII
Tidak ada komentar:
Posting Komentar