Rumah Tua (Tidak ada Kebetulan)
Suatu ketika aku datang di sebuah rumah dan rumah itu terlihat tua. Cat
temboknya sudah terkelupas. Warna putihnya sudah berubah menjadi
kekuning-kuningan. Bila dilihat lebih dekat lagi maka akan terlihat
retakan-retakan kecil di bagian-bagian tertentu. Gaya bangunannya
seperti gaya bangunan jaman dulu. Sederhana dan konservatif. Rumah itu
berdiri sendiri. Sebelah kanan dan kirinya hanya tanah kosong sementara rumah lainnya baru ada sekitar 1 km lagi dari rumah tua itu.
Pintunya yang terbuat dari kayu juga sudah terlihat rapuh. Dari lubang
kecil yang ada di pintu terlihat beberapa rayap kecil sedang berbaris
rapi menyelusuri pinggir pintu. Gagang pintunya tidak kuat. Sudah
berkarat dan sedikit longgar karena ada mur yang terlepas dari
tempatnya. Seharusnya sebuah papan pengumuman yang bertuliskan hati-hati
membuka pintu digantungkan pada pintu itu. Supaya jangan sampai pintu
itu roboh dan menimpa orang yang membukanya.
Rumah itu kecil.
Dari luar yang terlihat hanya tembok, pintu, dan jendela. Rumah itu
polos adanya. Tanpa halaman yang penuh dengan bunga, tanpa pagar putih
yang terbuat dari kayu, dan tanpa pohon hijau yang menjulang tinggi.
Terasnyapun tidak ada.
Aku berdiri di depan pintu masuk.
Mulanya aku ragu apakah ini rumah yang kucari-cari. Nomor rumahnya cocok
dengan nomor yang telah diberikan oleh ayahku.
"Pergilah ke
sana, nomor rumahnya 23, rumahnya kecil dan tua. Sekali melihat kau
pasti akan tahu bahwa itu adalah rumah yang kau cari," kata ayah
kepadaku.
Aku mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya
pintu itu terbuka. Seorang wanita separuh baya kini berdiri di
hadapanku. Wajahnya pucat, lesu, dan lelah. Baju yang dipakainya kusut
dan lusuh.
"Ada apa anak muda," tanyanya kepadaku.
Aku
terdiam. Aku mencoba mengintip ke dalam rumah. Tidak ada lampu yang
menyala. Hanya sinar matahari yang menerangi dalam rumah itu.
Aku melihat ada seorang anak sedang tidur di atas lantai dengan
beralaskan tikar. Anak itu sepertinya sedang merintih kesakitan.
"Ibu..ibu...," teriak anak itu memanggil ibunya.
Mendengar
dirinya dipanggil, wanita yang membukakan pintu itu segera menghampiri
anaknya dan meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu.
Aku ikut masuk ke dalam rumah. Ruangannya panas dan pengap. Aku hampir
tak bisa bernafas. Aku melihat si ibu memegang dahi anaknya yang sedang
terbaring. Lalu seperti orang ketakutan ia berlari mengambil kain basah
dan meletakkannya di atas dahi anaknya. Aku menghampiri anak itu.
Anak itu pasti sedang sakit. Ia terlihat sangat lemah tetapi ia masih
saja terus memanggil-manggil ibunya. Aku mencoba membantu si ibu untuk
menenangkan anaknya. Aku pegang kepalanya mencoba menenangkan anak itu.
Tetapi betapa terkejutnya aku ketika merasakan panas yang mengalir ke
tanganku. Anak itu sedang panas tinggi dan harus segera di bawa ke rumah
sakit untuk di beri perawatan, kalau tidak, mungkin ia akan segera
meninggal.
"Ibu,"kataku. "Anak ini harus segera dibawa ke rumah sakit kalau tidak ia bisa mati."
Si Ibu menatapku dan dari matanya aku bisa melihat tetesan-tetesan air berjatuhan membasahi wajahnya.
"Ibu tidak punya uang, dan ibu tidak tahu harus berbuat apa," kata ibu itu dengan suara menangis.
Ibu itu terus memegangi tangan anaknya yang terus memanggil-mangil dirinya.
"Ibu", kataku. "Mari kita bawa anak ibu ke rumah sakit, biar saya yang
akan membayar semua biayanya." Segera aku membangunkan anak itu dan
menggendongnya dengan kedua tanganku.
Ibu itu mengikuti aku
dari belakang. "Anak muda, siapakah sebenarnya anda? Apakah saya
mengenal anda? Dan ada keperluan apa anda datang ke mari?" tanya ibu
itu.
Lalu jawabku, "Ayah saya yang menyuruh saya untuk datang
ke rumah ibu. Ia berkata kalau ibu sedang memiliki masalah dan butuh
pertolongan. Mungkin ibu tidak mengenal saya tapi saya yakin ibu pasti
mengenal siapa ayah yang saya maksudkan, kemarin malam ibu berdoa
meminta kepada-Nya supaya anak ibu bisa sembuh dari penyakitnya." Saat
mendengar itu, terkejutlah si ibu.
Lalu ia mulai berdoa dan mengucap syukur karena Tuhan telah mendengar doanya. (Internet)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar